7 alasan kenapa naik gunung bisa menyebalkan

0
561

Mendaki gunung atau hiking memang menyenangkan, selalu ada cerita dan pengalaman yang berbeda dari setiap perjalanan bahkan ketika mendaki gunung yang sama sekalipun. Tapi perlu diketahui bahwa mendaki gunung tidak melulu menyenangkan, banyak cerita sedih dan penderitaan yang mungkin luput diceritakan oleh para pendaki ketika mereka menuliskan pengalaman mereka di blognya masing masing.

Dan berikut adalah beberapa alasan kenapa mendaki gunung bisa menjadi tidak menyenangkan atau bahkan menyebalkan.

  1. Kulit gosong!

Ya, gosong… muka, pundak dan bagian lain yang ter-ekspos kemungkinan besarnya akan gosong karena terpapar sinar matahari secara terus menerus. Ketika berada diketinggian udara cendrung lebih dingin dan ini bisa menjadi alasan bagi kita untuk betah terkena sinar matahari yang pada akhirnya sunburn tidak terhindarkan. Selain itu udara yang dingin dan panas juga membuat bibir kita kering, pecah dan terkelupas seusai pendakian.

Tapi tenang saja, kita bisa mengakalinya dengan menggunakan sunblock yang banyak tersedia dipasaran dan untuk bibir disarankan menggunakan lip balm atau pelembab. Dulu gw sering mengabaikan ini karena malu juga kalau harus “dendong” dengan mengoleskan sunblock dan lipbalm sampai suatu saat kulit muka gw gosong karena terkena radiasi matahari ketika melakukan pendakian di gunung Sumbing.

  1. Perasaan menyesal

Pada awal pendakian biasanya muncul pertentangan dan rasa menyesal, bagaimana tidak; setiap hari kita terbiasa hidup dengan nyaman dan tiba tiba harus melakukan perjalanan berat dengan carrier yang masih terisi penuh.

Perlu waktu untuk penyesuaian, biasanya awal awal pendakian pikiran dan tubuh kita sedikit berontak tapi berangsur angsur mulai menerima kondisi baru tersebut, biasakan untuk olah raga dengan teratur mulai dari sekarang.

  1. Sakit perut = boker digunung

Ini salah satu hal yang membuat para pendaki bete abis, berjalan dengan perut yang mulas serta keinginan bab yang maksa banget membuat perjalan jadi tidak menyenangkan, mungkin ada yang bertanya kenapa ga boker aja?

Ini dia masalahnya.. kita terbiasa boker dengan tenang dan selalu ada tembok yang mengelilingi kita sebagai pelindung sehingga kita merasa aman. Saking sakralnya prosesi ini ga pernah ada orang yang mau boker bareng, iya kan?

Dan ini menjadi salah satu alasan kenapa boker di gunung itu tidak menyenangkan. Bayangkan saja… kita harus cari lokasi yang pas dan sepi, nyari tempat aja dah bikin males. Perasaan takut, malu dan mules semua bercampur aduk, sepertinya otak kita mulai diambil alih.

Terakhir kita harus gali tanah sebagai tempat pembuangan, ketika mulai pup selalu ada perasaan ga tenang, takut ada orang liat, takut ular dan sebagainya… tai banget kan? Percaya deh kalo lu coba tahan dan pilih ga boker maka hidup lu ga lagi menyenangkan.

Pendaki baru biasanya cendrung lebih pilih nahan daripada boker ditanah dan hanya waktu yang bisa merubahnya, suatu saat mereka akan menyerah terus ngilang deh n mulai gali gali ahaha.

  1. Ngantri

Antrian selalu bikin bete terlebih di gunung! Pada tanggal tertentu gunung akan dibanjiri pengunjung dan jalan setapak ga cukup untuk nampung pendaki dari dua arah sekaligus. Sesekali coba deh ngalah dan tunggu antrian, jangan lupa balas sapaan dan pasang senyum terbaikmu (mo senyum aja berat men kalo lagi cape :).

  1. Altitude sickness

Mungkin kita lebih sering denger istilah mabok gunung daripada altitude sickness, adalah penyakit yang biasanya  terjadi di ketinggian. Sampai saat ini belum ada petunjuk jelas pemicunya apa, tapi  yang pasti ini biasanya terjadi di ketinggian dan bisa menyerang siapa saja. Dulu gw pernah dapet ini sampai ngalamin halusinasi, gw liat sesosok cewek yang dandanannya ala ala kuntil anak.

  1. Gagal muncak

Sebenarnya ga perlu kecewa kalau ga berhasil nyampai puncak, kebesaran alam dan udara sejuknya sudah cukup memberikan ketenangan dan kebahagian. Tapi kadang memang bete juga si mengingat waktu dan effort yang kita khususkan tapi gagal muncak. Selalu ingat bahwa kadang ada waktunya untuk menyerah atau mengalah, don’t push it to hard my friend, know your limit.

  1. Kehabisan supply atau ketinggalan barang penting

Kalau baru mungkin ga apalah, tapi kalau kalian sering naik gunung terus sering kehabisan supply karena salah hitung kayanya keterlaluan.

Berapa banyak orang yang ikut? normalnya berapa lama waktu yang diperlukan? apakah ada persediaan air disana? apakah ada anggota pendaki memiliki kebutuhan khusus, obat asma mungkin? apakah kalian mendaki di musim hujan?

Pertama kali gw camping dan hiking terbilang tidak menyenangkan, gw tidur di genangan air dan kehujanan semalaman. Harusnya pengalaman ini cukup buat ngusir orang dan ga kapok tapi entah kenapa gw tetep balik lagi, semacam ada panggilan dan setelah beberapa kali trip akhirnya gw tau kalau gw memang orang gunung. Kita bisa belajar dari pengalaman dan untuk perjalanan berikutnya kita bisa usahakan agar lebih baik dari sebelumnya.

Selalu pelajari gunung yang mau kalian daki dan persiapkan semuanya dengan matang. Jangan biarkan hal hal yang ga perlu atau bisa dicegah membuat perjalanan mendaki kalian jadi tidak menyenangkan, observe, learn and improve agar setiap perjalanan kalian bisa lebih berarti.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here