Jalur Pendakian Gunung Haruman Bandung

2
305
Puncak Gunung Haruman Bandung
Puncak Gunung Haruman

Gunung Haruman adalah salah satu gunung dari rangkaian pegunungan Malabar  yang terletak di Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung. Puncak Mega adalah sebutan untuk puncak gunung Malabar dan biasanya menjadi pilihan banyak pendaki yang berdatangan dari daerah Bandung dan sekitarnya.

Karena kita sudah pernah mendaki puncak Mega, maka kita memutuskan untuk mendaki gunung Haruman (gunung haruman bandung, jawa barat), jarak yang dekat serta puncak yang tidak terlalu tinggi menjadi salah satu pertimbangan, cukup satu malam saja dan besoknya sudah bisa kembali lagi ke rumah.

Umumnya jalur pendakian gunung Haruman adalah melalui Bumi Perkemahan Puntang, untuk masuk ke buper Puntang biayanya adalah sekitar Rp. 5000 – 20.000 tapi jalur yang kita pilih adalah jalur lain, tepatnya dari kampung Depok di daerah Cikalong. Seperti biasa, sebelumnya survey dulu untuk cek akses, transportasi dan untuk persiapan lainnya seperti tempat penitipan motor dll.

Jalur Pendakian gunung Haruman

Jalur pendakian yang menghilang/tertutup.

Mendaki gunung melalui jalur yang tidak “resmi” atau tidak umum memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, selain gratis kita juga bisa menentukan start point dan end point yang berbeda, dengan kata lain jalur naik dan turun berbeda, dari Depok kita mulai naik dan end pointnya adalah buper Puntang.

Gunung-gunung di Jawa Barat mungkin tidak seindah gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah yang banyak menawarkan sensasi berbeda… pemandangan indah dengan padang savana yang luas, landskap yang indah dengan bonus angin lembut dan hawa yang sejuk.

Ketika mendaki pegunungan di jawa barat kita langsung disuguhkan dengan tanjakan, turunan, duri-duri, pacet dan sebagai tambahan sering kali kita harus merangkak, menunduk dan menebaskan golok untuk membuka kembali jalur yang sudah tertutup karena lama tidak terlewati pendaki atau penduduk lokal. Semua kondisi ini diperparah jika kita melakukan pendakian pada musim hujan, jalan yang licin dan lumpur membuat langkah-langkah kaki semakin berat dan menguras tenaga.

Malu bertanya sesat di jalan!
Pada hari H tepatnya tanggal 17 Desember 2016, kita berdua mulai berjalan menyusuri jalan lebar berbatu, kiri kanan jalan dipenuhi dengan kebun sayur. Beberapa kali kita akan berpindah punggunggan sampai akhirnya memasuki areal hutan.

Saat mulai memasuki areal hutan jalur pendakian masih jelas sampai ketika lebih dalam, jalur mulai tertutup sehingga kita harus membuka kembali dengan menebaskan golok kesana kemari, kadang jalur pendakian menghilang dan kita harus membuat jalan sendiri sampai akhirnya menemukan kembali jalur pendakian yang sebenarnya.

Dalam situasi seperti ini sangat penting untuk jeli dan tidak terburu-buru, selau cek dan perhatikan apakah jalur pendakian yang sebenarnya tertutup atau tersembunyi. Beberapa kali kita menandai jalan ketika menemukan percabangan untuk jaga-jaga bila kita harus kembali ke jalur awal pendakian. Walaupun terbilang masih aman, jalur ini tidak disarankan karena bisa menyesatkan.

Pada musim hujan jalur pendakian menjadi licin dan lengket, terlebih untuk jalur tanah yang curam… sebagai pelengkap tidak ada akar untuk kita pegang dan sisanya adalah duri-duri tajam yang siap merobek kulit. 1, 2, 3 kali percobaan dan kembali terperosok, gw sempat terdiam beberapa saat menikmati penderitaan saat itu sambil mengumpulkan tenaga untuk percobaan berikutnya.

Peta menunjukan bahwa perjalanan ke puncak Haruman tidaklah terlalu berat dan bisa dicapai dalam waktu singkat tapi prakteknya ternyata berbeda, jalur yang tertutup dan menghilang membuat perjalanan makan waktu lebih lama. Kita berangkat jam satu siang dan saat hari mulai gelap, tepatnya jam 5 sore tu puncak masih belum ketemu juga :), akhirnya kita memutuskan untuk ngecamp yang lokasinya tidak jauh dari pos 4.

Musim ujan bor!
aah mendaki di musim hujan itu memang so sweet, begitu banyak memori… memori buruk tapi haha, pernah kepikir ga bahwa kadang sesuatu yang menyenangkan itu  tidak perlu rumit dan inilah yang dirasakan orang-orang yang sering naik gunung, kencing berdiri aja tiba tiba bisa begitu asik, makan makanan yang sederhana bisa begitu nikmat dan salah satu ritual pelengkap yang ditunggu adalah api unggun.

Api menjadi sangat berharga karena bisa menghangatkan badan juga memasak, tapi karena naiknya dimusim ujan ya susah juga bikinnya, tu kayu bakar pada basah biarpun dah di belek belek tetep aja basah dalamnya jadi dengan berat hati kita harus merelakan ketiadaan sang api dan melewati malam tanpanya.

Kenapa suka naik gunung?
Pernah dapat pertanyaan kenapa suka naik gunung? mungkin sebagian orang sempat pause sebelum bisa menjawabnya, sebagian mungkin menjawab suka dengan moment yang spesifik, atau pemandangan yang ditawarkan, ada juga yang sensitive dengan bau bau yang disuguhkan, seperti  bau tanah yang basah, kayu atau bau bau hutan lainnya.

Dingin pasti, tapi kabut dan suasana seperti ini memberikan efek menenangkan

Mungkin alasannya berbeda untuk setiap orang, tapi yang pasti orang-orang sebelum kita memang tinggal dihutan… ya mereka menyebutnya rumah dan percaya atau tidak memori dari leluhur kita (recall memory) bisa sampai kepada kita (tertanam) yang berada disaat ini dan tanpa kita sadari kita tertarik untuk “kembali ke rumah”.

Puncak Gunung Haruman

Terima kasih kepada bang Udin yang sudah meminjamkan tendanya malam itu, kita bisa tidur cukup nyenyak. Setelah sarapan dan menghisap beberapa batang roko kita mulai melanjutkan perjalanan, selang beberapa jam akhirnya kita sampai di puncak Haruman dan kembali berleha-leha 🙂

Sebenarnya puncak gunung Haruman cukup terbuka, tapi sayang saat itu kabut menutupi pemandangan sisi kiri kita, pemandangan disisi kanan terlihat rangkaian pegunungan  dan danau dari kejauhan. Area puncak cukup luas dan bisa mendirikan sampai dengan 3-4 tenda, terlihat beberapa perapian dan sedikit sampah peninggalan pendaki sebelumnya. Pendakian di bulan Desember memang bukan ide yang baik, dan ini menjadi salah satu alasan kenapa kita tidak bertemu dengan pendaki lainnya.

Penampakan monyet digunung Haruman

 

Setelah puas menikmati puncak gunung Haruman, tepat jam 13.00 kita kembali meneruskan perjalan menuju buper Puntang, rasanya tenang hati ini karena perjalanan turun akan lebih gampang dengan jalur yang lebih jelas. Tapi belum lama kita berjalan tiba tiba jalur kembali hilang, beberapa menit akhirnya ketemu juga dan perjalanan berlanjut sampai ketenangan kita kembali terusik,  jalur turun yang sudah ditentukan sebelumnya berbeda dengan jalan yang kita lalui.

Terdapat penanda berupa pita merah serta penanda PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia) dan kita memutuskan untuk mengikuti jalur ini, tapi setelah beberapa lama jalurnya semakin menjauh dari jalur yang sebelumnya kita tentukan, 3 jam kita berjalan sampai akhirnya mendengar suara sungai.
Saat itu kita sadar bahwa jalur yang kita ikuti memutar sangat jauh, sampai sekarang kita masih ragu apakah itu memang jalur yang biasa dilewati untuk naik ke puncak Haruman mengingat jaraknya yang cukup jauh.

Sekitar jam 5 sore akhirnya kita sampai di buper Puntang dan beristirahat sebentar di warung dan berharap bertemu dengan pendaki lain atau tim PGPI untuk menanyakan beberapa pertanyaan terkait jalur turun dari puncak Haruman. Tapi sayang saat itu memang sepi dan kemungkinannya kita memang salah jalan ketika turun dari puncak.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY